Minggu, Desember 14, 2014

Cerita Singkat Tentang Kolonel Sanders


Ketika Kolonel Harland Sanders pensiun di usia 65, dia hanya memiliki sedikit tabungan untuk dirinya, selain mobil Caddie tuanya, jg uang pensiun senilai $105 per bulan, serta resep masakan ayam rahasianya..!
Menyadari bahwa dia tak mungkin bertahan hanya melalui uang pensiun, dia pun memutuskan untuk menjual resep masakan ayamnya..

Rencana awalnya adalah menjual resepnya pada pemilik restoran dengan imbalan 5 sen per potong ayam yang terjual.. Pemilik Restoran pertama menolaknya..
Demikian yang ke 2. Dan yang ke 3.. Pun tetap ditolak.

Faktanya, 1008 penawaran dari sang Kolonel berakhir dengan penolakan..

Tapi, dia terus menawarkan resep ayamnya mengelilingi Amerika, bahkan sampai tidur di mobilnya untuk menghemat uang..
Nomer keberuntungan 1009 memberinya jawaban "Yes"

Tentu kita tahu bagaimana akhir cerita tsb, bahwa di tahun 1963 dia memiliki 60 counter Kentucky Fried Chicken (KFC) yg tersebar di seluruh Amerika..

Kolonel Harland Sanders, melalui kehidupannya, mengajarkan kepada kita bahwa "Tidaklah terlambat untuk memutuskan untuk TIDAK MENYERAH" 

Dalam perjalanan kehidupannya, Kolonel Sanders pernah mencoba beberapa bisnis.. Sebuah pom bensin pada usia 30an, Restoran di usia 40, dan dia pun mengakhiri keduanya.. dan pada usia 65 barulah dia sadar bahwa penjualan resep ayam adalah ide yang brilian, dan dia MENOLAK UNTUK MENYERAH, meskipun dia menghadapi rentetan penolakan..

Dia tahu jika dia terus mengetuk "pintu", pada akhirnya akan ada seseorang yang memberi jawaban "Ya"

"Janganlah terlalu cepat untuk menyerah, teruslah mengetuk, teruslah berusaha, teruslah mencari, dan teruslah bekerja"

Teh Kotak


Ada 3 Teh Kotak, ketiga Teh Kotak tsb diproduksi di pabrik yg  sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut ketiga Teh Kotak tsb & menuju ke tempat yg berbeda utk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Teh Kotak pertama di turunkan disini. Teh Kotak itu dipajang di rak bersama dgn Teh Kotak pabrik lainnya & diberi harga Rp. 4.000.
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana, Teh Kotak kedua diturunkan. Teh Kotak tsb ditempatkan di dlm kulkas supaya dingin & dijual dgn harga Rp. 6.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yg sangat mewah. Teh Kotak ketiga diturunkan di sana. Teh Kotak ini tdk ditempatkan di rak / di dlm kulkas. Kotak ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yg pesan, Teh Kotak ini dikeluarkan bersama dgn gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki & pelayan hotel akan membukakan kotak teh itu, menuangkannya ke dlm gelas & dgn sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :
Mengapa ketiga Teh Kotak tsb memiliki harga yg berbeda padahal diproduksi dari pabrik yg sama, diantar dgn truk yg sama & bahkan mereka memiliki rasa yg sama??
🌲 Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.
🐾 Lingkungan berbicara ttg RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada dilingkungan yg bisa mengeluarkan hal terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang.

Tapi bila Anda berada di lingkungan yg meng-kerdil-kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil!!
ANDA (orang yg sama, bakat yg sama, kemampuan yg sama) + lingkungan yg berbeda = NILAI YG BERBEDA!!! Demikian

Seorang Penjual Gorengan



Alkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal. Tanpa terasa, sudah lebih dari 20 tahun dia menjalani usahnya itu. Namun tidak ada perubahan yang berarti; Usahanya tetap begitu2 saja. Suatu hari, datang seorang pria membawa mobil mewah, lalu berhenti di depan gerobak gorengannya. Pria itu bertanya: "Ada gorengan buntut singkong,Pak?"
Si tukang gorengan lantas menjawab: "Nggak ada,Mas."

"Saya kangen sama buntut singkongnya, Pak. Dulu waktu kecil, ketika ayah saya baru meninggal, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman saya mengejek saya karena tidak bisa beli jajanan. Tapi waktu itu, Bapak selalu memberi buntut singkong goreng kepada saya, setiap kali saya main di dekat gerobak bapak," ujar pria muda itu. Tukang gorengan terperangah. "Yang saya berikan dulu kan cuma buntut singkong,

Kenapa kamu masih ingat saya?" "Bapak tidak sekadar memberi buntut singkong, tapi juga sudah memberikan kebahagiaan dan harapan buat saya. Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, saya ingin memberangkatkan Bapak ke Tanah Suci. Semoga Bapak bahagia,"lanjut pria itu. Si tukang singkong goreng hampir tidak percaya. Hanya sebuah kebaikan/sedekah kecil tapi mendatangkan berkah yang begitu besar! Pesan dari kisah ini: selalu bersyukur & berbuat baik. Sekecil apa pun, asal ikhlas dan tulus, pasti akan membuahkan kebahagiaan dan keberkahan

KISAH NYATA ARIF SI NARAPIDANA CILIK YANG CERDAS



Spoiler for ini cerita nya

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.

Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji Hanibal Lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat anak-anak.

Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun.Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.

Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

"Siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat lho waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung udara panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.

Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpan di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur.

Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruang ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan Tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah.Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil Omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

* Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. * Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, kebijakan bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini.Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain.

Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya ke

Diantara perangai jahiliyah



oleh Ust. Abu Yahya Badrusalam LC

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.
Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah, "Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?"
Abu Sufyan menjawab, "Justru kebanyakan dari kaum yang lemah."

Padahal dahulu kaum 'Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.
Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya.

Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan sang pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa.

My Famaly