Minggu, Mei 29, 2022

GURU PENGGANTI


Hari itu seorang guru pengganti bidang bahasa Arab memasuki sebuah ruangan kelas Madrasah Ibtidaiyah. Rupanya ia menggantikan guru tetap yang saat itu tengah cuti hamil sehingga ia pun hanya mengisi hingga akhir semester.

Ketika pembelajaran dimulai dan membahas beberapa pelajaran, sang guru kemudian bertanya kepada salah seorang anak laki-laki yang duduk di bangku depan. Sontak penunjukan itu pun membuat anak-anak yang lain tertawa tanpa diketahui sebabnya apa
Namun karena sang guru merupakan orang yang berpengalaman dalam mendidik anak, ia pun paham betul bahwa besar kemungkinan ada sesuatu dalam diri anak tersebut hingga anak laki-laki yang lain menertawakannya. Maka ia pun menyelidiki dan benar terbukti bahwa anak laki-laki yang ia beri pertanyaan merupakan seorang anak yang dikenal paling bodoh di kelas tersebut. Tak heran jika anak-anak yang lain menertawakannya dan mencemoohnya.
Hingga suatu hari sang guru kemudian memanggil anak yang dianggap bodoh tersebut ketika seluruh murid lainnya telah keluar dari kelas. Sang guru kemudian memberikan secarik kertas dan berkata:
“Hafalkan baik-baik bait syair yang ada dalam kertas ini. Kamu harus hafal betul dan jangan beritahukan kepada teman-temanmu, siapapun orangnya!”
Murid laki-laki itu hanya mengangguk patuh tanpa banyak bertanya. Setelah seminggu kemudian, sang guru kemudian mengajar kembali dan menuliskan sebuah syair di papan tulis. Setelah itu ia menerangkannya dan membacakannya berkali-kali. Ia pun kemudian bertanya kepada seluruh murid,
“Sekarang siapakah yang hafal bait syair yang bapak tulis ini?” sembari menghapus syair yang ada di papan tulis tersebut. Suasana pun menjadi hening karena tidak satu pun yang berani tunjuk tangan sebagai tanda
mampu menghafalnya.
Kemudian berdirilah anak yang dianggap bodoh tersebut dan maju perlahan ke depan sembari terlihat malu-malu. Ia pun membacakan hafalan syair tersebut dengan lancar dan sangat baik sehingga teman-teman yang biasa mengolok-oloknya terkejut dan terdiam. Sang guru kemudian mengapresiasi keberhasilan murid tersebut dan menyuruh murid lainnya untuk tepuk tangan sebagai bentuk penghormatan.
Seperti itu yang terus dilakukan oleh sang guru dimana selalu memberikan secarik kertas kepada anak bodoh tersebut dan lambat laun cemoohan dan hinaan terhadap anak itu berubah menjadi kekaguman.
Perlakuan teman-temannya itu pun membuat si anak bodoh lebih percaya diri dan meyakini bahwa dirinya tidak sebodoh apa yang dulu ia kira. Dengan keyakinan penuh, ia mulai mampu bersaing dengan teman-temannya yang lain di semua mata pelajaran.
Akhirnya ketika ujian akhir tiba, murid yang dulu dianggap bodoh tersebut lulus dengan nilai yang sangat memuaskan di semua mata pelajaran.
Kini ia pun mengejar gelar kedoktoran di sebuah universitas ternama di kotanya. Subhanallah
Sebagai bentuk pujian atas gurunya dahulu, ia pun menuliskan kisahnya dan dimuat di sebuah Koran. Ia berharap agar Allah memberikan pahala atas kebaikan yang dilakukan oleh sang guru.
Sahabatku, dalam kehidupan ini kita akan berteman dengan dua jenis manusia dimana yang satu akan membuka jalan kebaikan dan menutup jalan keburukan. Sementara yang lain akan menutup jalan kebaikan dan membuka jalan keburukan.
Carilah teman yang mampu membuka jalan kebaikan dan menutup jalan keburukan. Hal ini bisa terlihat dari bagaimana ia memberi semangat kepada kita, mau menolong dalam kebaikan dan juga melapangkan dada ketika kita merasa susah.
Sementara teman yang menutup jalan kebaikan dan membuka jalan keburukan hanya akan berusaha memutuskan harapan dan cita-cita kita dengan memberikan rintangan seperti pesimis, putus asa dan berbagai pandangan buruk lainnya.
Semoga kita semua memiliki teman yang mau membuka jalan kebaikan dan menutup jalan keburukan. Aamiin

PEMINTA MINTA

-Di depan gerbang suatu jembatan disalah satu kota Eropa, duduklah seorang buta peminta-minta-

Ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang dan menaruh kaleng di depan dia duduk.
Dia berharap orang-orang yang lalu lalang merasa iba mendengar gesekan biolanya dan memberinya sedikit uang......
Pada suatu hari seorang pria yang berjubah panjang, Dia lewat dan memperhatikan peminta minta buta ...yang sedang memainkan biola nya .....tidak ada orang lewat yg mau memperhatikannya.
Pria tersebut akhir nya datang menghampiri peminta buta tadi dan meminta agar peminta buta itu meminjamkan biola usangnya.
Tentu saja si peminta buta itu menolak, dan berkata : *"Tidak !!! Ini adalah hartaku satu satu nya !!!"*.
Tetapi orang tersebut terus membujuk agar si peminta buta mau meminjamkan biolanya, meski hanya untuk sebuah lagu.🙏
Akhirnya si peminta buta itu, dengan terpaksa memberikan biola tua.
Dan Pria yang berjubah panjang tersebut berbisik....
*"saya akan beri contoh...memainkan Biola dengan sepenuh hati ....dengan tujuan sungguh sungguh untuk Menghayati dan masuk didalam lagu itu.(bukan sekedar memainkan atau hanya sekedar mencari iba....cepat menyelesaikan nya)*
Setelah itu, dia mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu *indah dan syahdu.*
Suara Biola yang begitu halus di tangan si pemain ini, dan membuat semua orang yang lewat berhenti,
serta mereka mengelilingi si pemain biola dan si peminta Buta tersebut.
Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan BIOLA si PRIA tersebut, membuat semua orang terdiam, terhanyut oleh gesekan Biolanya.
Kerumunan besar semangkin banyak
Si pengemis buta pun terkesan dan ternganga ....tanpa dapat berkata-kata.
Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang.
Bahkan sampai keluar dari kaleng karena tidak cukup lagi menampung uang yang bukan hanya recehan ...tapi...lembaran dolar....yang di berikan orang-orang yang berkerumun itu.
Ternyata tidak cuma satu lagu, ...tetapi.... beberapa lagu dimainkan oleh si pemain biola tersebut.
Akhirnya iapun harus menyelesaikan permainannya, dan sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola itu kepada si pengemis.
Dan Berpesan kepada Peminta Buta itu....
*"Sekarang pulanglah...dengan uang yang engkau dapat hari ini...belilah baju yang baik... mandi.... cukur rambut dan rapikan jenggotmu...*
*MULAI besok bermainlah seperti yang aku katakan dan aku contohkan"*
Si pengemis dengan berlinang air mata dan gemetar : "Mengucapkan terimakasih pada Tuan yang budiman ???".
Si Pria ini tersenyum dan dengan perlahan
Meninggalkan tempat itu.
*KEESOKANNYA*
Sungguh Peminta Buta tadi....sudah kembali duduk ditempat yang sama
....tetapi....
Sekarang *PENAMPILAN nya BERBEDA*
*Memakai setelan Jas dengan rambut dikuncir... janggut rapi... dengan bau parfum yang lembut*
*"Dia mulai memainkan BIOLAnya dengan Halus... dengan sepenuh Hati... terdengar Indah dan Syahdu sungguh sungguh meresapi dan masuk dalam ke Lagu tersebut"*
Dan sebentar saja .....
*Orang orang yang lewat kembali berkerumun* menikmati 1 - 2 lagu dari peminta buta ... *sambil memasukan uang* kedalam kotak yg cukup besar
*(bukan lagi kaleng)*
Sejak hari itu
Peminta buta ...ini...bukan lagi sebagai *peminta buta* ...tapi...orang menyebutnya.
*Seniman jalanan*
Yang sangat menghibur pejalan yang lewat di gerbang jembatan
*Nasib dan Rejeki* Peminta buta pun sudah berubah sangat drastis....😍⛑😍 ...sekarang dapat hidup dengan sangat Layak bahkan Berkecukupan .
Dan peminta buta itupun tidak pernah tahu....siapa Pria berjubah panjang tersebut
🔙🔛🔜🔙
Apakah Saudara ingin tahu pria berjubah panjang tersebut ?
🔙🔛🔜🔙
Orang-orang menyebutkan namanya : *"Paganini"*.
Sang maestro biola Paganini, ia telah *Memberi Bantuan sesuai dengan Profesinya.*
Dia *tidak memberinya uang* kepada Peminta buta tersebut
*....tapi.....*
Dia memberi *Resep Seniman Biola* kepada peminta buta tersebut
Saudaraku,
*Banyak cara bagi kita* untuk menjadi seperti "Paganini" *dalam membantu orang lain*
*Lakukanlah sesuai dengan KEMAMPUAN dan TALENTA kita*.
Jadikanlah hidup ini ... *PENUH ARTI*...untuk membantu sesama .
*KEBAHAGIAN Kita bukan berapa banyak orang mengenal kita*
....tapi....
*Berapa Banyak Orang orang yang Hidup nya menjadi Bahagia karena Kita.*
Mari kita jadikan
*BAKAT...KEAHLIAN dan TALENTA yang kita punya* untuk menjadi BERKAT bagi orang-orang disekitar kita....
*maka kita akan merasakan KEBAHAGIAAN* karena begitu banyak orang yang boleh *Berbahagia karena kita.*
Dan Hidup kita Boleh Bermanfaat untuk banyak orang....

Jumat, Mei 13, 2022

BATU KECIL

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah.

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya uang koin Rp 1.000- yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut koin Rp 1.000 tersebut, dan melanjutkan pekerjaannya.
Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah, "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000, lalu kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.
*Kisah diatas sama dengan kehidupan kita,* saat dimana Allah selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.
Kita diberi rezeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-NYA.
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rezeki itu datang. Bahkan kita selalu bilang, "Saya lagi beruntung, dan menganggap seolah rezeki yang didapat hanya karena usahanya semata, tanpa merasa adanya ikut campur tangan Allah dan lupa bersyukur."
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rezeki yang berasal dari Allah.
Jadi, jangan sampai kita mendapatkan lemparan *"batu kecil"* yang kita sebut musibah, sehingga baru pada saat itulah kita mau menoleh dan ingat kepada-NYA.
Allah SWT berfirman:
وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَڪْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS. As-Sajdah: Ayat 21)
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَاۤ اِلٰٓى اُمَمٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَاَخَذْنٰهُمْ بِالْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati."
(QS. Al-An'am: Ayat 42)
KEBANYAKAN MANUSIA LUPA SAMA ALLAH SETELAH DILEPASKAN DARI KESUSAHAN
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖۤ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَآئِمًا ۚ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَاۤ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗ ؕ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan."
(QS. Yunus: Ayat 12)
_Sungguh Allah sangat mencintai kita. Marilah kita selalu ingat untuk senantiasa menoleh kepada-NYA sebelum dan jangan sampai hanya ketika kita mendapat lemparan *batu kecil* saja._

Senin, Mei 09, 2022

KISAH UANG 150 Juta

Sebelum pulang kantor, sang suami menelpon istrinya, "Sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta." Di ujung telpon, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, "Alhamdulillah, semoga barokah ya mas".

Sejak beberapa bulan yg lalu mereka sudah merencanakan beli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang yg turun mereka rasa cukup pas sesuai budget.
Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelp oleh ibunya di kampung, "Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta." Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, "Iya, Bu, insyaAllah ada." Dalam perjalanan pulang ia pun sambil berpikir, "Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yg 100 jutaan. Mungkin ini lebih baik."
Ia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, HP-nya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya semasa SMA tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus segera operasi minggu ini. Banyak biaya yg tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80 juta.
Ia pun berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, "Berikan padanya. Mungkin kamu memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu." Ia pun menuruti panggilan nuraninya.
Setibanya di rumah, ia menemui istrinya dg wajah yg lesu. Sang istri bertanya, "Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?" Sang suami mengambil napas panjang, "Tadi ibu di kampung telp, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telp, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita nggak jadi beli mobil dulu."
Sang istri pun tersenyum, "Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yg sebenarnya bukan yg 20 juta itu, tapi yg 130 juta. Uang yg kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yg sesungguhnya. Yg akan kita bawa menghadap Allah, yg tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yg 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain."
Sang istri pun memegang tangan suaminya, "Mas, insyaAllah ini yg terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, justru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari baik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yg kita inginkan, sementara Allah-lah yg lebih tahu apa yg kita butuhkan."
Semoga berfanfaat

USTAD PENCURI

Seorang Ustad diundang makan malam oleh sepasang suami istri di rumah mereka.
Setelah Ustad itu pergi,
si istri berkata kepada suaminya,
Uang kita hilang, aku pikir Pak Ustad yang mengambil uang 5jt di meja itu..
"Padahal uang itu akan aku berikan untuknya."
Dengan marahnya si suami berkata, "Jika begitu dia pencuri!
Jadi kita tidak perlu datang ke pengajiannya lagi.
Dua bulan kemudian si wanita bertemu dengan Ustad itu di jalan dan dengan terpaksa menyapa Sang Ustad.
"Ass. Wr. Wb. Pak Ustad, tentu anda menyadari bahwa sudah lama kami tidak hadir di pengajian karena kami marah padamu.
Ketika anda makan malam di rumah kami, di meja ada uang 5jt yang hilang, setelah anda pergi.
Dan Pak Ustad adalah satu-satunya orang yang datang ke rumah kami hari itu."
Sang Ustad dengan tersenyum menjawab:
Ya benar aku yang mengambil uang itu dan menaruhnya dalam Alqur’an anda, agar tidak terkena tumpahan saus."
Maafkan saya kalau waktu itu saya tidak beri tau anda, karena saya pikir kalian tiap hari pasti buka Alqur’an.
Wanita itupun amat malu dan meminta maaf kepada sang Ustad.
Setelah Kembali ke rumah, dia mengambil Alqur’an dan menemukan 5jt berada didalam Alqur’an sudah selama dua bulan.
Selama dua bulan si wanita dan suaminya tidak pernah membuka dan membaca Alqur’an.
Selama dua bulan mereka telah menuduh Ustad-nya itu telah mencuri uang mereka.
Sahabat..
Semoga kita tidak seperti kisah suami dan isteri diatas..
Jarang Membaca Alqur’an,
berprasangka buruk dan menghakimi orang lain yang belum tentu bersalah.
Selamat memperingati Malam Nuzulul Qur'an
Tiada Hari tanpa membaca Alqur'an..
semangat ya saudara saudariku...💪🏾

Selasa, Maret 22, 2022

PETI MUTIARA

Seorang ayah mengeluarkan sebuah peti yang berisi mutiara-mutiara yang amat mahal harganya. Dia kemudian meletakkan peti itu di depan tiga orang anak lelakinya.

"Wahai anak-anakku, oleh kerana ayah sangat mencintai kalian bertiga, maka ayah ingin memberikan isi peti ini pada kalian semua..", ujar si ayah.
Si ayah lalu membuka peti tersebut.
Ketiga-tiga mereka terpegun dengan kilauan manik-manik mutiara yang banyak di dalam peti itu.
"Wahai anak-anakku, setiap daripada kamu boleh mengambil mutiara-mutiara di dalam peti ini dengan kedua tangan kamu. Rauplah sebanyak mungkin tetapi kamu semua hanya dibenarkan meraup sekali sahaja.!"
Anaknya yang sulung terus mendekati peti tersebut. Dengan penuh semangat, dia melebarkan kedua tangannya dan meraup kemas manik-manik mutiara ke dalam genggamannya.
Begitu juga dengan anak yang kedua. Oleh kerana sudah besar panjang sudah tentu mereka dapat meraup mutiara dengan banyak dengan tangan mereka yang lebar.
Kedua mereka tersengih puas. Mereka memandang adik bongsu mereka yang masih kecil. Dalam fikiran mereka bagaimanalah adik bongsu mereka ini akan meraup manik mutiara yang banyak sedangkan dia masih kecil.
Anak bongsu itu tahu yang dia masih kecil dan tidak memiliki kelebihan seperti abang-abangnya. Dia mendekati ayahnya lalu memeluknya.
Dia berbisik perlahan, "Ayah, benarkah ayah menyayangiku?"
"Sudah tentu anakku!", balas si ayah.
"Kalau begitu, daku tidak mahu mengambil sendiri manik-manik mutiara di dalam peti ini, daku mahu ayah yang mengambilnya untukku.."
Si ayah hanya tersenyum memandang anak bongsunya itu. Dia menutup peti mutiara itu lalu menyerahkan kesemuanya kepada anak bongsunya.
Kedua abangnya tercengang tidak percaya melihat si ayah memberikan peti mutiara kepada adik bongsu mereka.
* * * *
Anak pertama dan kedua merasa yakin dengan kemampuan diri sendiri. Tidak seperti anak yang bongsu yang sedar dengan kelemahan diri lalu memerlukan pertolongan ayahnya dan akhirnya memperoleh lebih daripada yang dia inginkan.
Begitulah kebanyakan daripada kita. Kita amat yakin dengan diri sendiri yang lemah ini. Lupa bersandar pada Allah SWT. Lupa untuk mengembalikan segala urusan kepada Allah SWT.
Hanya Allah SWT yang mampu memberikan apa yang terbaik dalam hidup. Hanya Allah SWT yang tepat dalam memilih apa yang kita inginkan.

Kamis, Maret 17, 2022

SOPIR TAXI.

Siang ini aku membawa mobilku menuju sebuah rumah bercathijau

Kubunyikan klakson sebagai tanda bahwa taksi yang dipesan telah siap di depan rumahnya.

Aku menunggu beberapa menit.

Namun tidak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dari rumah itu.

Tadinya aku mau membunyikan klakson lagi tapi perasaanku mengatakan aku harus keluar dan mengetuk pintu rumah itu saja.

Aku membuka pintu mobil, berjalan melalui taman di depan rumahnya.

“Taman yang cukup terawat”, pikirku.

Aku mulai mengetuk pintu rumahnya.

Terdengar sebuah suara : “Tunggu sebentar ya”.

Suaranya lemah, sepertinya sudah berusia senja.

Lalu aku dengar langkah kaki dan sesuatu yang diseret menuju ke pintu tempat aku berdiri.

Tak lama pintu terbuka.

Seorang wanita tua berdiri di depanku.

Dia mengenakan baju berwarna ungu dan kerudung berwarna senada yang dipakai diatas kepalanya.

Aku menebak umurnya mungkin sekitar 70 an tahun.

Di sampingnya terdapat sebuah koper kecil yang tadi terdengar diseret.

Tidak ada orang lain di rumah itu, bahkan aku perhatikan semua perabotan disana sudah kosong, terlihat beberapa dus bekas dan meja kecil yang ditutup koran.

Sepertinya pemiliknya akan meninggalkan rumah itu dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak ingin kembali kesana.

“Apakah Anda bisa membawa koper saya ke mobil? " dia bertanya.

Aku mengangguk lalu mengambil koper dan memasukannya dalam bagasi taksi, kemudian kembali untuk membantu wanita itu.

Dia memegang lenganku dan kami berjalan perlahan menuju tepi jalan tempat aku memarkirkan kendaraanku.

Wanita tua itu berterima kasih kepadaku karena mau memegangnya saat menuju taksi tadi.

"Tidak mengapa Bu..., itu sudah seharusnya saya lakukan. Saya jadi teringat Ibu saya sendiri. Saya senang jika Ibu saya diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Jadi sudah seharusnya saya juga melakukan hal yang sama pada Ibu”.

'Oh, anda sepertinya anak yang baik ya”, katanya.

Aku hanya tersenyum.

Ketika kami sampai di dalam taksi, wanita itu memberi aku sebuah alamat dan kemudian bertanya, "Bisakah Anda berkendara melalui pusat kota?"

"Pusat kota..? Bukankah itu malah menjadi lebih jauh kalau mau ke alamat ini Bu?" jawabku cepat.

'Oh ya, saya mengerti, tapi saya tidak terburu-buru, saya sedang dalam perjalanan ke panti jompo nak”.

Aku melihat di kaca spion. Matanya berkilauan sepertinya dia menahan tangis.

Terlihat jelas ada kesedihan terpendam di wajahnya.

"Saya tidak punya keluarga lagi nak..," lanjutnya dengan suara lembut.

 “Suami saya sudah meninggal, saya tidak punya anak. Dokter mengatakan saya punya penyakit serius. Jika sendirian di rumah, dokter khawatir terjadi apa-apa dengan saya, jadi dokter menyarankan agar sisa hidup saya ini dihabiskan di panti jompo saja nak".

 Aku diam-diam mengulurkan tangan dan mematikan argometer.

 “Ibu ingin lewat jalan apa? Biar saya antar jalan-jalan dengan taksi saya ini”.

Ibu itu pun lalu memintaku untuk melewati jalan di kota yang cukup ramai.

Beliau menunjukkan gedung tempat dia pernah bekerja sebagai seorang sekretaris.

Kami melaju melalui sebuah perumahan, di mana ia dan suaminya pernah tinggal ketika masih pengantin baru.

Lalu beliau juga memintaku untuk berhenti di depan sebuah gudang mebel yang pernah menjadi ballroom gedung kesenian tempat di mana dia menjadi penari saat masih gadis.

Kadang-kadang dia memintaku untuk memperlambat di depan sebuah bangunan tertentu atau berhenti di sebuah sudut jalan, kemudian dia keluar dari mobil.

Dia duduk di situ, menatap ke sekeliling, terkadang dia menyentuh tembok, atau benda yang ada disana.

Pandangannya menunjukkan rona kesedihan, namun tidak mengatakan apa-apa.

Tanpa terasa matahari sudah mulai meninggalkan cakrawala.

Hari sudah berganti gelap.

Dia tiba-tiba berkata, "Aku lelah …..., ayo pergi sekarang".

Kami melaju dalam keheningan ke alamat yang telah dia berikan padaku.

Sesampainya disana, aku melihat Itu adalah sebuah bangunan, seperti rumah peristirahatan kecil.

Sekelilingnya penuh dengan tanaman hias aneka warna.

Suasananya sejuk, sangat cocok untuk menenangkan diri.

Ada kolam ikan di dekat jalan menuju pintu masuk.

Beberapa kandang burung juga ada disana.

Menambah semarak suasana sekitar rumah tersebut.

Ada dua orang perempuan berbaju perawat yang keluar dari rumah kecil itu.

Mereka membawa sebuah kursi roda.

Terihat garis kecemasan di wajah perawat itu.

Mungkin mereka sudah mengharapkan wanita tersebut sejak siang tadi.

Aku membuka bagasi, mengambil koper kecil dan membawanya menuju pintu masuk.

Wanita itu sudah duduk di kursi roda.

Berapa yang harus saya bayar untuk ongkos taksinya nak...? Dia bertanya sambil merogoh tasnya.

"Nggak usah Bu," kataku.

"Wah nggak boleh begitu, anda kan mencari nafkah", jawabnya.

“Nggak apa apa bu..., nanti kan ada penumpang yang lain”. Aku menjawab yakin.

Tanpa berpikir panjang, aku membungkuk dan memeluknya di kursi roda.

Dia balas memelukku dan memegang erat-erat tanganku.

"Nak......  anda sudah memberikan kepada seorang wanita tua ini sebuah kegembiraan yang tiada tara.

Anda sudah memberikan Perjalanan Terakhir yang menyenangkan untuk saya kenang.

Terima kasih untuk semua kebaikanmu ya nak”.

Aku meremas tangannya, dan kemudian berjalan ke dalam cahaya malam yang redup.

Di belakangku terdengar pintu menutup.

Rasanya pilu, dingin dan menyeramkan.

Seperti tertutupnya satu buah harapan dalam kehidupan.

Aku tidak mengambil lagi penumpang di jalan meski ada beberapa yang meminta taksiku berhenti.

Aku pergi tanpa tujuan, melamun.

Selama sisa hari itu, aku hampir tidak bisa bicara.

Pikiranku melayang saat pertama kali bertemu dengan wanita tua itu.

Bagaimana jika bukan aku sopir taksi yang menjemputnya.

Bagaimana jika sopir taksi yang menjemputnya itu tidak keluar dari mobil dan hanya marah-marah sambil klakson berkali-kali untuk memberitahu bahwa taksi sudah datang…..?

Bagaimana jika sopir taksi itu tidak mau mengantarnya jalan-jalan seharian?

Padahal di jalan banyak penumpang yang akan memakai jasa taksinya.

Aku akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang benar, selain mencari uang di jalanan dengan taksiku ini.

Bukankah hidup bagaikan roda yang berputar?

Bagaimana jika wanita tua itu adalah Ibuku sendiri?

Bagaimana jika wanita tua itu adalah istriku sendiri?

Bagaimana jika wanita tua itu adalah anakku sendiri?

Atau bahkan ……… diriku sendiri?

Sahabat,

Sebuah tindakan kecil bisa jadi merupakan sebuah hal besar untuk orang lain.

Anda mungkin tidak akan mengingat apa yang telah anda lakukan untuk orang lain. Namun orang lain akan selalu mengingat apa yang telah anda perbuat sehingga membuat hidupnya menjadi lebih berarti.

Maka teruslah memberi manfaat untuk orang lain dan lakukan dengan sepenuh hati.

Sebab hati tidak pernah berbohong.

Dia tahu mana yang harus anda lakukan atau anda tinggalkan.

Semua orang akan melangkah menuju satu tujuan yang sama yaitu hari akhir.

Tetaplah melangkah, tiap menit, tiap jam, tiap hari, tiap tahun……

Jangan melekatkan diri dengan apa yang ada didunia ini, melainkan  Allah bersamamu ... 🥰